Cara agar Sapi Lahap Makan Jerami: Peternak Sering Salah di Sini

cara agar sapi lahap makan jerami dengan fermentasi amoniasi

Di musim kemarau, peternak KAN Jabung di Jabung, Malang sering menghadapi situasi yang sama: tumpukan jerami padi tak tersentuh di sudut kandang, sementara sapi berdiri melamun. Bukan sapinya yang bermasalah. Jerami kering tanpa perlakuan memang sulit dicerna dan tidak palatabel. Cara agar sapi lahap makan jerami bukan soal membiarkan sapi lapar lebih lama, melainkan soal mengubah jerami menjadi pakan yang benar-benar layak konsumsi melalui proses fermentasi amoniasi yang tepat.

sapi menolak makan jerami kering karena kandungan lignin tinggi
Jerami padi kering memiliki kadar lignin tinggi yang membuat sapi enggan memakannya

Mengapa Sapi Menolak Makan Jerami?

Jerami padi segar sekalipun mengandung kadar serat kasar di atas 35% dan lignin yang tinggi. Lignin adalah senyawa dinding sel yang tidak bisa dicerna oleh enzim rumen sapi. Akibatnya, nilai kecernaan bahan kering (KCBK) jerami padi mentah hanya berkisar 40–45%, jauh di bawah kebutuhan sapi perah produktif.

Di lapangan, kami melihat sapi hanya menjilati jerami, lalu meninggalkannya. Ini bukan selera, ini sinyal biologis. Rumen sapi tidak mendapat manfaat cukup dari jerami tanpa perlakuan, sehingga tubuh sapi menolak secara naluriah.

Selain lignin, protein kasar (PK) jerami padi mentah hanya 3–5%. Kebutuhan minimum sapi perah laktasi ada di angka 12–14% PK. Dengan demikian, jerami mentah sendirian tidak akan cukup sebagai pakan tunggal.

Kondisi yang Memperburuk Penolakan Sapi

Jerami yang terlalu kering, berjamur, atau terkontaminasi tanah akan semakin ditolak sapi. Dari pengalaman kami di kandang KAN Jabung, jerami yang disimpan lebih dari 6 bulan tanpa perlindungan kelembaban akan kehilangan aroma dan tekstur yang masih bisa menarik perhatian sapi.

Sebaliknya, jerami yang baru dipanen dan disimpan kering dengan sirkulasi udara baik masih bisa diterima sapi, meski konsumsinya tetap rendah. Perlakuan fermentasi atau amoniasi mengubah situasi ini secara signifikan.

Untuk memahami lebih jauh kebutuhan nutrisi harian sapi Anda, baca juga panduan kebutuhan pakan sapi per hari dari KAN Jabung.

proses fermentasi amoniasi jerami padi untuk pakan sapi
Proses amoniasi jerami padi menggunakan urea, membungkus jerami rapat selama 3 minggu

Proses Fermentasi Amoniasi Jerami untuk Sapi

Amoniasi jerami padi adalah teknik perlakuan kimia menggunakan urea atau amonia untuk memecah ikatan lignin-selulosa. Hasilnya, kecernaan jerami meningkat dari 40–45% menjadi 55–65%, dan kandungan protein kasar naik dari 3–5% menjadi 8–12%.

Ini adalah pakan alternatif sapi murah yang sudah kami rekomendasikan kepada anggota KAN Jabung (Koperasi Agro Niaga Jabung), terutama saat harga hijauan melonjak di musim kering.

Langkah Amoniasi Jerami dengan Urea

Berikut prosedur yang kami terapkan di lapangan:

  1. Siapkan bahan. 100 kg jerami padi kering, 4 kg urea, 60 liter air bersih.
  2. Larutkan urea ke air. Aduk rata hingga urea larut sempurna sebelum disiramkan.
  3. Semprot dan tumpuk jerami. Semprot setiap lapisan jerami setebal 20–30 cm dengan larutan urea secara merata.
  4. Tutup rapat dengan plastik. Plastik hitam tebal (200 mikron) digunakan agar gas amonia tidak menguap. Ikat dan padatkan.
  5. Inkubasi 3 minggu. Pada suhu 25–35°C, proses amoniasi berlangsung optimal. Di iklim Malang Timur, 21 hari sudah cukup.
  6. Angin-anginkan sebelum diberikan. Buka plastik 24–48 jam sebelum pemberian agar sisa amonia menguap. Sapi tidak mau makan jerami yang masih berbau tajam.

Fermentasi Jerami dengan Probiotik sebagai Alternatif

Selain amoniasi, fermentasi jerami dengan EM4 atau bakteri asam laktat bisa menjadi pilihan. Proses ini lebih lambat (3–4 minggu) namun menghasilkan aroma yang lebih disukai sapi karena profil asam lemak volatil yang terbentuk.

Yang kami lihat di lapangan: sapi perah FH cenderung lebih responsif pada jerami fermentasi probiotik dibandingkan amoniasi murni, terutama sapi laktasi yang sensitif terhadap bau pakan. Namun dari segi efisiensi biaya dan kecepatan proses, amoniasi urea tetap unggul.

Referensi kandungan nutrisi jerami padi bisa dicek ke data kandungan nutrisi jerami padi versi FAO sebagai basis perhitungan formulasi pakan.

teknik pemberian jerami fermentasi yang efektif untuk sapi perah
Peternak KAN Jabung memberi jerami fermentasi dicampur konsentrat kepada sapi FH (Ilustrasi)

Teknik Pemberian Jerami Fermentasi yang Efektif

Memiliki jerami fermentasi berkualitas baru setengah pekerjaan selesai. Cara pemberian yang salah tetap akan membuat sapi meninggalkan palung setengah terisi.

Campurkan dengan Konsentrat di Tahap Awal

Dari pengalaman kami, sapi yang belum pernah mengonsumsi jerami fermentasi perlu masa adaptasi 7–14 hari. Caranya: campurkan jerami fermentasi dengan konsentrat KAN Jabung atau konsentrat sapi perah JabFeed dengan rasio awal 20:80, lalu tingkatkan porsi jerami fermentasi secara bertahap setiap 3 hari.

Sapi yang sudah adaptasi bisa menerima rasio jerami fermentasi hingga 40–50% dari total pakan serat kasar harian. Itulah mengapa proses adaptasi tidak boleh dilewati.

Waktu dan Frekuensi Pemberian

Berikan jerami fermentasi setelah pemerahan pagi. Rumen sapi dalam kondisi aktif dan nafsu makan sedang tinggi pada periode ini. Pemberian 2 kali sehari (pagi dan sore) dengan porsi masing-masing 5–8 kg per ekor untuk sapi perah dewasa sudah memadai sebagai sumber serat.

Jangan berikan jerami fermentasi dalam kondisi basah atau lembab akibat hujan. Selain menurunkan konsumsi, risiko kontaminasi jamur pada pakan basah bisa memicu gangguan pencernaan.

Pastikan Air Minum Selalu Tersedia

Jerami fermentasi mengandung kadar NDF (Neutral Detergent Fiber) yang tinggi. Sapi membutuhkan lebih banyak air untuk memproses pakan berserat tinggi. Dari protokol yang kami terapkan di kandang: pastikan ketersediaan air minum minimal 50–60 liter per ekor per hari saat sapi mengonsumsi pakan berbasis jerami.

Untuk strategi pakan yang lebih komprehensif, baca panduan teknik pemberian pakan ternak sapi yang benar yang telah kami susun berdasarkan standar operasional KAN Jabung.

Apakah Jerami Fermentasi Cukup Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Sapi?

Pertanyaan ini sering datang dari anggota peternak kami. Jawabannya jelas: tidak cukup sebagai sumber tunggal, tetapi sangat berharga sebagai komponen pakan.

Posisi Jerami Fermentasi dalam Ransum Sapi Perah

Sapi perah laktasi membutuhkan energi tinggi (TDN 65–70%), protein kasar 14–16%, dan serat kasar yang cukup untuk menjaga kesehatan rumen. Jerami fermentasi memenuhi kebutuhan serat kasar dan sebagian protein, namun energinya masih terbatas.

Oleh karena itu, jerami fermentasi harus dikombinasikan dengan hijauan segar seperti rumput Pakchong atau Odot yang kami gunakan di rearing farm KAN Jabung, ditambah konsentrat sebagai penyuplai energi dan protein tambahan.

Komponen Pakan Protein Kasar (PK) Kecernaan (KCBK) Fungsi Utama
Jerami padi mentah 3–5% 40–45% Sumber serat rendah kualitas
Jerami amoniasi (urea) 8–12% 55–65% Sumber serat + protein parsial
Rumput Pakchong segar 10–14% 65–72% Sumber hijauan utama
Konsentrat KAN Jabung 16–18% 75–82% Energi + protein + mineral lengkap

Berdasarkan data operasional kami, peternak anggota KAN Jabung yang menggunakan jerami fermentasi sebagai 30–40% komponen serat kasar harian mampu menekan biaya pakan hijauan 15–25% di musim kemarau, tanpa penurunan signifikan pada produksi susu, asalkan konsentrat tetap terpenuhi.

⚠️ Catatan transparansi data: Angka 15–25% penghematan di atas adalah estimasi berdasarkan laporan anggota peternak binaan KAN Jabung dan bukan hasil uji klinis formal. Selalu konsultasikan formulasi ransum dengan tim nutrisi sebelum mengubah komposisi pakan secara signifikan.

Sumber Pakan Alternatif Lain yang Bisa Dikombinasikan

Jerami bukan satu-satunya alternatif saat hijauan langka. Baca panduan lengkap tentang makanan sapi selain rumput untuk mengetahui opsi lain yang bisa dikombinasikan dengan jerami fermentasi dalam ransum harian sapi Anda.

Untuk sapi penggemukan, pertimbangan rasio pakan berbeda. Baca juga pakan penggemukan sapi untuk memahami perbedaan formulasi antara sapi perah dan sapi potong.

Panduan standar amoniasi jerami dari Kementerian Pertanian bisa diakses di standar amoniasi jerami Kementan sebagai referensi regulasi pakan ternak Indonesia.

Untuk referensi panduan pakan sapi secara komprehensif, kunjungi panduan lengkap nutrisi dan pakan sapi dari KAN Jabung.


Pertanyaan Umum tentang Cara agar Sapi Lahap Makan Jerami

Berapa lama proses amoniasi jerami sampai siap diberikan ke sapi?

Proses amoniasi jerami dengan urea membutuhkan waktu inkubasi minimal 21 hari pada suhu 25–35°C. Setelah itu, jerami harus diangin-anginkan 24–48 jam sebelum diberikan ke sapi agar sisa gas amonia menguap. Total waktu dari pembuatan hingga siap saji sekitar 23–25 hari.

Berapa dosis urea yang benar untuk amoniasi 100 kg jerami?

Dosis standar yang digunakan adalah 4 kg urea dilarutkan dalam 60 liter air bersih untuk setiap 100 kg jerami kering. Dosis yang terlalu tinggi akan meninggalkan bau amonia berlebih yang membuat sapi menolak pakan.

Apakah jerami padi sawah dan jerami jagung bisa diamoniasi dengan cara yang sama?

Jerami padi sawah dan jerami jagung bisa diamoniasi dengan prosedur yang serupa. Namun, jerami jagung memiliki kadar selulosa yang lebih tinggi dan lignin yang sedikit lebih rendah dibandingkan jerami padi, sehingga kecernaan setelah amoniasi bisa sedikit lebih baik. Dosis urea tetap sama di angka 4% dari bobot bahan kering jerami.

Berapa porsi jerami fermentasi yang ideal untuk sapi perah per hari?

Untuk sapi perah dewasa FH, porsi jerami fermentasi yang disarankan adalah 5–8 kg per ekor per hari, dibagi dalam 2 kali pemberian. Jerami fermentasi sebaiknya tidak melebihi 40–50% dari total kebutuhan serat kasar harian agar ransum tetap seimbang dan produksi susu tidak terganggu.

Mengapa sapi masih menolak jerami fermentasi setelah 21 hari inkubasi?

Ada dua kemungkinan utama: pertama, bau amonia belum sepenuhnya menguap, artinya masa pengangin-anginan perlu diperpanjang hingga 48–72 jam. Kedua, sapi belum terbiasa dengan profil rasa dan aroma pakan baru. Campurkan jerami fermentasi dengan konsentrat dalam rasio 20:80 selama 7–14 hari pertama sebagai masa adaptasi.

Apakah jerami fermentasi bisa menggantikan rumput sepenuhnya untuk sapi perah?

Tidak disarankan. Jerami fermentasi bisa menggantikan sebagian kebutuhan serat kasar, namun kandungan energi dan mineral pada jerami fermentasi tidak mencukupi kebutuhan sapi perah laktasi secara mandiri. Kombinasi jerami fermentasi dengan hijauan segar dan konsentrat tetap diperlukan untuk menjaga produksi susu dan kondisi tubuh sapi.

Formulasi Pakan Jerami Bersama Tim Nutrisi KAN Jabung

Jerami fermentasi bukan solusi darurat. Bagi peternak yang menerapkannya dengan benar, fermentasi amoniasi jerami padi adalah strategi pakan cerdas yang memangkas biaya hijauan tanpa mengorbankan produktivitas ternak.

KAN Jabung (Koperasi Agro Niaga Jabung) telah mendampingi lebih dari 1.619 peternak aktif di Jabung, Malang dalam merancang ransum berbasis bahan lokal. Tim nutrisi kami memahami kondisi lapangan: keterbatasan hijauan di musim kemarau, fluktuasi harga konsentrat, dan kebutuhan sapi perah FH yang spesifik per fase laktasi.

Jika Anda membutuhkan bantuan merancang formulasi ransum berbasis jerami yang sesuai dengan kapasitas kandang dan target produksi susu, hubungi tim nutrisi KAN Jabung untuk konsultasi formulasi pakan berbasis jerami. Kami juga menyediakan konsentrat sapi perah JabFeed yang dirancang untuk dikombinasikan dengan berbagai sumber serat lokal termasuk jerami fermentasi.

Hubungi kami: KAN Jabung | Jl. Suropati 4-6 Kemantren, Jabung, Malang 65155 | Telp: 0341-791227 | Email: kanjabung@yahoo.com

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest