Cara Menjaga Produksi Susu Sapi Saat Musim Kemarau
Setiap musim kemarau, perubahan di kandang biasanya mulai terlihat dari hal yang sederhana. Rumput yang sebelumnya mudah diperoleh mulai berkurang, sapi lebih sering mendekati tempat minum, dan pada siang hari nafsu makan tidak lagi seperti biasanya.
Beberapa hari kemudian, perubahan itu mulai terlihat pada hasil pemerahan. Jumlah susu yang terkumpul tidak sebanyak sebelumnya.
Situasi seperti ini sering membuat peternak mengambil langkah cepat dengan menambah pakan. Padahal, produksi susu yang turun saat kemarau tidak selalu berarti sapi sekadar kekurangan makanan.
Ketika suhu meningkat, sapi dapat mengalami tekanan panas atau heat stress. Kondisi tersebut membuat sapi mengurangi konsumsi pakan, meningkatkan konsumsi air, dan mengubah aktivitas hariannya. Pada saat yang sama, kualitas serta ketersediaan hijauan juga dapat berubah.
Karena itu, cara menjaga produksi susu saat kemarau harus dimulai dari pengelolaan seluruh kondisi kandang, bukan hanya menambah satu jenis pakan.
Mengapa Produksi Susu Sapi Turun Saat Kemarau?
Masalah produksi pada musim kemarau sebenarnya dimulai jauh sebelum angka pemerahan terlihat turun. Ketika suhu lingkungan meningkat, tubuh sapi harus bekerja lebih keras untuk membuang panas yang dihasilkan dari metabolisme.
Sapi perah dengan produksi tinggi menghadapi tantangan yang lebih besar karena aktivitas metabolisme untuk menghasilkan susu juga menghasilkan panas tubuh. Ketika panas lingkungan semakin tinggi, sebagian energi tubuh akhirnya digunakan untuk mempertahankan kondisi tubuh tetap nyaman.
Ketika sapi mulai mengurangi konsumsi pakan
Salah satu perubahan yang paling mudah diamati adalah sapi menjadi lebih sedikit makan pada periode panas. Ini bukan sekadar masalah selera makan. Mengurangi konsumsi pakan merupakan salah satu respons tubuh ketika sapi berusaha mengurangi panas yang dihasilkan dari proses pencernaan.
Masalahnya, produksi susu tetap membutuhkan energi dan nutrisi. Ketika bahan kering yang masuk ke tubuh berkurang, pasokan nutrisi untuk produksi susu juga ikut berkurang.
Di sinilah hubungan antara heat stress dan produksi susu turun kemarau menjadi penting. Penelitian yang dihimpun AGRIS FAO menunjukkan adanya hubungan antara peningkatan tekanan panas dengan penurunan konsumsi bahan kering dan produksi susu pada sapi perah.
Untuk memahami referensi penelitian terkait produktivitas ternak, peternak dapat melihat publikasi yang tersedia melalui AGRIS FAO.
Catatan atribusi: hasil penelitian eksternal menggambarkan kondisi penelitian tertentu. Angkanya tidak dapat langsung digunakan sebagai angka penurunan produksi sapi di KAN Jabung karena kondisi kandang, cuaca, pakan, dan manajemen setiap peternakan berbeda.
Masalahnya bukan hanya panas
Musim kemarau juga mengubah kondisi pakan. Hijauan yang biasanya tersedia lebih mudah menjadi terbatas ketika curah hujan menurun. Peternak kemudian harus mencari bahan pakan lain untuk mempertahankan jumlah dan kualitas ransum.
Di sinilah banyak keputusan pakan menjadi kurang tepat. Peternak melihat jumlah pakan yang diberikan, tetapi belum tentu melihat jumlah pakan yang benar benar dikonsumsi sapi.
Padahal, sapi bisa saja mendapatkan pakan dalam jumlah yang terlihat cukup tetapi konsumsi aktualnya menurun karena panas.
Jadi ketika produksi mulai turun, pertanyaan pertama bukan selalu “berapa banyak konsentrat yang harus ditambah?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah “apa yang berubah dari konsumsi dan kondisi sapi?”
Air menjadi semakin penting
Panas juga meningkatkan kebutuhan air. Sapi menggunakan air untuk mempertahankan fungsi tubuh, mengatur suhu, dan mendukung produksi susu.
Jika air tidak tersedia dalam jumlah cukup atau kualitasnya buruk, sapi dapat mengurangi konsumsi air. Ketika konsumsi air terganggu, konsumsi pakan juga dapat ikut terdampak.
Karena itu, evaluasi produksi susu saat kemarau harus selalu melihat pakan dan air secara bersamaan.
Strategi Pakan untuk Menjaga Volume Susu

Ketika produksi mulai turun, menambah konsentrat sering terlihat sebagai solusi paling cepat. Namun keputusan tersebut belum tentu menyelesaikan masalah jika penyebab utamanya adalah konsumsi pakan yang turun akibat panas atau ketersediaan serat yang tidak mencukupi.
Strategi pakan musim kemarau harus dimulai dari menjaga konsumsi dan keseimbangan ransum.
Siapkan sumber serat sebelum hijauan habis
Persiapan pakan sebaiknya dilakukan sebelum kondisi hijauan benar benar kritis. Ketika peternak baru mencari alternatif setelah rumput habis, pilihan yang tersedia menjadi lebih terbatas dan perubahan ransum harus dilakukan dalam waktu singkat.
Jerami yang telah melalui proses fermentasi dapat menjadi salah satu sumber serat alternatif ketika hijauan terbatas. Penggunaannya tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan ransum bersama bahan pakan lainnya.
Peternak yang ingin memanfaatkan jerami dapat membaca cara agar sapi lahap makan jerami untuk memahami bagaimana bahan tersebut dapat dipersiapkan agar lebih mudah diterima sapi.
Jangan menunggu pakan habis untuk mengubah ransum
Perubahan ransum sebaiknya dipersiapkan secara bertahap. Sapi membutuhkan waktu untuk beradaptasi ketika jenis atau komposisi bahan pakan berubah.
Karena itu, peternak perlu mengetahui berapa lama persediaan hijauan yang tersedia dapat bertahan. Dari sana, sumber serat alternatif dapat disiapkan sebelum kebutuhan benar benar mendesak.
Pendekatan ini lebih aman daripada menunggu stok habis kemudian mengganti sebagian besar bahan pakan sekaligus.
Atur waktu pemberian pakan
Waktu pemberian pakan menjadi semakin penting ketika suhu siang hari tinggi. Sapi cenderung mengurangi aktivitas makan pada periode paling panas.
Materi manajemen kemarau KAN Jabung menggunakan pagi sebelum pukul 08.00 dan malam setelah pukul 19.00 sebagai waktu utama pemberian pakan. Pada periode siang, perhatian lebih banyak diarahkan pada kenyamanan dan pengendalian tekanan panas.
Logikanya sederhana. Jika sapi mendapatkan kesempatan makan ketika kondisi lingkungan lebih nyaman, peluang konsumsi pakan tetap terjaga menjadi lebih besar.
Gunakan konsentrat sesuai kebutuhan sapi
Konsentrat memang penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi dengan produksi susu tertentu. Namun, konsentrat bukan pengganti serat dan bukan pula solusi tunggal ketika produksi susu turun.
Jumlahnya perlu disesuaikan dengan produksi susu, fase laktasi, kualitas hijauan, dan kondisi tubuh sapi.
Karena itu, keputusan untuk menambah konsentrat sebaiknya dibuat setelah keseluruhan ransum dievaluasi.
Pembahasan lebih spesifik mengenai konsentrat dapat dibaca melalui artikel konsentrat untuk sapi menyusui.
Jadikan produksi susu sebagai alarm awal
Peternak tidak perlu menunggu produksi turun drastis untuk mulai mengevaluasi ransum. Catatan produksi harian dapat digunakan sebagai alarm awal.
Ketika angka mulai berubah, lihat kembali kondisi pakan, konsumsi, air, cuaca, dan kesehatan sapi. Jika perubahan produksi muncul bersamaan dengan perubahan konsumsi pakan, penyebabnya perlu dicari dari sistem tersebut.
Untuk melihat bagaimana kebutuhan pakan dihitung berdasarkan kondisi sapi, baca juga artikel kebutuhan pakan sapi per hari.
Manajemen Air Minum Sapi di Musim Kering

Peternak sering berfokus pada rumput ketika membahas kemarau. Padahal, air justru menjadi salah satu kebutuhan yang paling cepat berubah ketika suhu meningkat.
Pastikan air tersedia tanpa membuat sapi menunggu
Sapi harus memiliki akses mudah terhadap air bersih. Tempat minum perlu berada pada lokasi yang mudah dijangkau dan mampu memenuhi kebutuhan jumlah sapi yang ada.
Hal ini semakin penting pada periode panas karena kebutuhan air meningkat. Setelah makan dan pemerahan, sapi juga membutuhkan akses terhadap air untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.
Kebersihan air tidak boleh diabaikan
Air yang tersedia belum tentu berarti air yang baik.
Tempat minum perlu diperiksa secara rutin dari sisa pakan, kotoran, lumpur, dan bahan lain yang dapat mencemari air. Ketika air berbau atau kotor, sapi dapat mengurangi konsumsi meskipun air secara fisik tersedia.
Jadi pemeriksaan sederhana yang perlu dilakukan bukan hanya memastikan “air ada”, tetapi juga memastikan “sapi mau minum air tersebut”.
Kurangi tekanan panas di kandang
Manajemen air perlu berjalan bersama pengendalian panas. Ventilasi, naungan, sirkulasi udara, dan kepadatan sapi perlu diperhatikan agar panas tidak terperangkap di dalam kandang.
Tujuannya bukan membuat kandang menjadi dingin seperti ruangan berpendingin. Yang perlu dilakukan adalah membantu sapi membuang panas secara lebih efektif.
Ketika kondisi kandang lebih nyaman, sapi memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan aktivitas makan dan minum.
Untuk memahami faktor lain yang dapat menyebabkan perubahan perilaku sapi, baca juga artikel penyebab sapi bisa stres.
Pengalaman KAN Jabung Mengelola Produksi Susu Saat Kemarau

Menjaga produksi susu dalam sistem peternakan rakyat tidak berhenti pada satu kandang. Pakan, sapi, peternak, pemerahan, pengumpulan, hingga pendinginan susu menjadi bagian dari satu rangkaian yang saling berkaitan.
Skala pengelolaan tersebut terlihat dari aktivitas KAN Jabung. Pada SM1 2025, KAN Jabung memiliki 1.619 anggota penyetor dengan populasi 6.901 ekor sapi. Produksi susu tercatat mencapai 51.142 liter per hari.
| Indikator | Data SM1 2025 |
|---|---|
| Anggota penyetor | 1.619 anggota |
| Populasi sapi | 6.901 ekor |
| Produksi susu | 51.142 liter per hari |
| TPS | 17 unit |
| TPS dengan fasilitas pendingin | 15 unit |
| Mesin pendingin | 20 unit dengan kapasitas 60 ton |
Angka tersebut merupakan data SM1 2025. Data ini tidak digunakan sebagai angka produksi KAN Jabung untuk 2026.
Kemarau harus dikelola sebelum produksi turun
Dalam skala seperti ini, menjaga produksi susu bukan pekerjaan yang dilakukan setelah masalah muncul. Persiapan harus dimulai dari kandang.
Peternak perlu mengetahui persediaan hijauan, menyiapkan sumber serat alternatif, menjaga ketersediaan konsentrat, memastikan air selalu tersedia, dan memantau kondisi sapi ketika suhu meningkat.
Setiap perubahan produksi kemudian perlu dibaca bersama perubahan kondisi tersebut.
Produksi susu adalah hasil akhir dari banyak keputusan yang terjadi setiap hari di kandang.
Menjaga kualitas susu juga bagian dari manajemen kemarau
Produksi susu yang terjaga belum cukup jika kualitas susu tidak ditangani dengan baik setelah pemerahan.
KAN Jabung memiliki 17 TPS dan 15 di antaranya dilengkapi fasilitas pendingin. Selain itu, terdapat 20 unit mesin pendingin dengan kapasitas 60 ton.
Artinya, menjaga kualitas susu kemarau tidak berhenti ketika susu keluar dari ambing sapi. Penanganan setelah pemerahan juga menjadi bagian penting dari rantai produksi.
Gunakan tiga pemeriksaan sederhana setiap hari
Peternak tidak membutuhkan sistem yang rumit untuk menemukan perubahan awal. Tiga hal dapat diperiksa setiap hari.
| Indikator | Pertanyaan yang Perlu Dijawab |
|---|---|
| Pakan | Apakah sapi masih makan dengan normal? |
| Air | Apakah air bersih selalu tersedia dan dikonsumsi sapi? |
| Produksi | Apakah hasil pemerahan berubah dibandingkan catatan sebelumnya? |
Jika ketiganya mulai berubah pada waktu yang sama, jangan langsung menyalahkan satu bahan pakan. Lihat kembali seluruh kondisi kandang.
Pendekatan seperti ini membantu peternak mengambil keputusan berdasarkan perubahan yang benar benar terjadi, bukan sekadar asumsi.
FAQ tentang Cara Menjaga Produksi Susu Saat Kemarau
Kenapa produksi susu sapi turun saat kemarau?
Produksi susu dapat turun karena suhu tinggi menyebabkan heat stress, konsumsi pakan menurun, kebutuhan air meningkat, dan ketersediaan atau kualitas hijauan berubah. Penyebabnya perlu dilihat secara menyeluruh karena kondisi setiap sapi dan kandang berbeda.
Apa pakan sapi saat musim kering yang bisa digunakan?
Hijauan tetap menjadi bagian penting dalam ransum. Ketika ketersediaannya terbatas, jerami yang telah diolah melalui fermentasi dapat digunakan sebagai salah satu sumber serat bersama bahan pakan lainnya sesuai kebutuhan sapi.
Apakah produksi susu turun berarti konsentrat harus ditambah?
Tidak selalu. Peternak perlu memeriksa konsumsi pakan, kualitas hijauan, air minum, fase laktasi, kondisi tubuh, dan kesehatan sapi terlebih dahulu. Konsentrat harus menjadi bagian dari ransum yang seimbang.
Apakah air minum memengaruhi produksi susu?
Ya. Air dibutuhkan untuk fungsi tubuh dan produksi susu. Ketika suhu meningkat, kebutuhan air sapi juga meningkat sehingga air bersih harus tersedia dalam jumlah cukup dan mudah dijangkau.
Kapan waktu terbaik memberikan pakan sapi saat musim kemarau?
Pemberian pakan utama dapat diarahkan pada periode ketika suhu lebih rendah, terutama pagi dan malam. Materi manajemen kemarau KAN Jabung menggunakan waktu sebelum pukul 08.00 dan setelah pukul 19.00 sebagai periode utama pemberian pakan.
Bagaimana menjaga kualitas susu saat kemarau?
Mulai dari menjaga kesehatan sapi, memenuhi kebutuhan nutrisi, menyediakan air bersih, menjaga kebersihan pemerahan, hingga memastikan susu segera masuk ke sistem penanganan dan pendinginan setelah pemerahan. Produksi dan kualitas susu perlu dikelola sebagai satu rangkaian.
Jangan Menunggu Produksi Turun untuk Bersiap Menghadapi Kemarau
Musim kemarau memang membawa tantangan yang berbeda bagi peternak sapi perah. Hijauan menjadi lebih terbatas, suhu meningkat, kebutuhan air bertambah, dan sapi dapat mengurangi konsumsi pakan.
Tetapi penurunan produksi bukan sesuatu yang harus selalu ditunggu sampai terjadi.
Persiapan pakan harus dimulai sebelum hijauan habis. Air harus tersedia setiap saat. Waktu pemberian pakan perlu disesuaikan dengan kondisi panas. Kandang harus dibuat senyaman mungkin. Produksi susu perlu dicatat dan dievaluasi secara rutin.
Dengan pengelolaan tersebut, peternak memiliki dasar yang lebih kuat untuk mempertahankan produksi dan menjaga kualitas susu selama musim kemarau.
Untuk kebutuhan pakan sapi perah, JabFeed dari KAN Jabung dapat menjadi bagian dari program nutrisi yang disesuaikan dengan kondisi ternak dan ransum yang digunakan.









