Musim kemarau panjang selalu menjadi ujian nyata bagi peternak sapi perah di sekitar Jabung. Hijauan menipis, produksi susu turun, dan peternak mulai mencari alternatif. Di sinilah banyak dari mereka pertama kali mengenal Pakchong. Kandungan nutrisi rumput Pakchong dengan kadar Protein Kasar (PK) hingga 12 persen dan Total Digestible Nutrients (TDN) sekitar 58 persen bahan kering menjadikannya salah satu hijauan paling efisien untuk sapi perah laktasi.
Di lahan KAN Jabung (Koperasi Agro Niaga Jabung), rumput Pakchong sudah menjadi bagian dari sistem pakan harian untuk mendukung produksi 51.142 liter susu per hari. Bukan karena tren, melainkan karena angkanya memang masuk akal.
Apa Itu Rumput Pakchong?
Pakchong adalah varietas rumput hibrida hasil persilangan antara Pennisetum purpureum (rumput Gajah) dan Pennisetum americanum (pearl millet). Varietas ini dikembangkan di Universitas Rajamangala Technology Surin, Thailand, dan mulai populer di Indonesia sekitar satu dekade terakhir.
Dari pengalaman kami, Pakchong tumbuh lebih cepat dibandingkan rumput Gajah konvensional. Satu rumpun Pakchong bisa mencapai tinggi 2 hingga 3 meter dalam waktu 45 hari setelah pemangkasan. Pertumbuhan itu konsisten bahkan di musim kering selama pasokan air tidak terputus total.
Salah satu keunggulan yang jarang disebut adalah palatabilitas Pakchong. Sapi kami di BSP KAN Jabung memakannya lebih lahap dibandingkan rumput Gajah biasa. Sebab itu, kandungan nutrisinya yang baik pun bisa dimanfaatkan secara optimal. Selengkapnya tentang pilihan hijauan berkualitas tersedia di artikel jenis rumput yang mengandung protein tinggi.

Tabel Kandungan Nutrisi Rumput Pakchong: BK, PK, TDN, dan SK
Data nutrisi di bawah ini mengacu pada analisis proksimat hijauan segar yang dipanen pada umur 45 hari. Angka dapat bervariasi tergantung jenis tanah, pemupukan, dan kondisi iklim setempat. Untuk konteks kebutuhan nutrisi sapi perah laktasi secara internasional, lihat standar kebutuhan nutrisi hijauan pakan ternak dari FAO. Bandingkan juga dengan panduan sapi makan apa: panduan nutrisi dan pakan untuk konteks kebutuhan harian.
| Parameter Nutrisi | Pakchong | Odot (Dwarf Napier) | Gajah (King Grass) |
|---|---|---|---|
| Bahan Kering (BK) | 18 – 22% | 16 – 20% | 15 – 19% |
| Protein Kasar (PK) | 10 – 12% | 12 – 14% | 7 – 10% |
| Total Digestible Nutrients (TDN) | 55 – 58% | 52 – 56% | 48 – 54% |
| Serat Kasar (SK) | 28 – 32% | 26 – 30% | 30 – 35% |
| Produksi Biomassa | 250 – 400 ton/ha/tahun | 150 – 250 ton/ha/tahun | 200 – 300 ton/ha/tahun |
Catatan: angka di atas adalah kisaran dari berbagai penelitian agronomis. Pakchong unggul terutama pada produktivitas biomassa per hektar per tahun — ini yang membuat biaya hijauan per ekor sapi bisa ditekan lebih efisien dibandingkan hijauan lain.

Perbandingan Nutrisi Pakchong, Odot, dan Gajah: Mana yang Terbaik?
Pertanyaan ini sering masuk ke tim penyuluh kami. Jawabannya bergantung pada kondisi lahan dan target produksi. Namun, dari data tabel di atas, ada pola yang jelas.
Odot unggul dalam kandungan Protein Kasar bisa mencapai 14 persen BK pada panen muda umur 30 hari. Itulah mengapa Odot cocok sebagai suplemen hijauan protein tinggi untuk sapi laktasi tinggi. Namun, produksi biomassanya per hektar lebih rendah dari Pakchong.
Pakchong unggul dalam efisiensi lahan. Dengan produksi 250 hingga 400 ton per hektar per tahun, satu petak lahan Pakchong mampu memasok lebih banyak bahan kering untuk lebih banyak ekor sapi. Selain itu, batangnya yang lebih keras membuatnya lebih mudah disilase dibandingkan Odot. Lihat strategi integrasi hijauan dengan konsentrat dalam artikel manajemen pakan sapi perah yang efektif.
Rumput Gajah konvensional, sebaliknya, paling rendah dalam PK dan TDN di antara ketiganya. Keunggulannya ada pada adaptasi lahan marginal dan biaya benih yang lebih murah. Oleh karena itu, banyak peternak di wilayah dengan lahan terbatas masih mempertahankan Gajah sebagai bagian dari campuran hijauan.
Rekomendasi Kombinasi Hijauan di KAN Jabung
Protokol yang kami terapkan adalah kombinasi Pakchong sebagai hijauan utama (60 persen) dan Odot sebagai suplemen protein (20 persen), ditambah silase jagung pada musim kemarau (20 persen). Kombinasi ini memberikan profil nutrisi yang lebih seimbang dibandingkan mengandalkan satu jenis hijauan saja.
Hasilnya terukur. Sapi yang mendapat kombinasi tersebut secara konsisten menunjukkan kondisi tubuh (BCS) lebih stabil di angka 3 hingga 3,5 sepanjang fase laktasi. Stabilitas BCS langsung berdampak pada konsistensi volume susu harian.

Cara Tanam dan Waktu Panen Optimal Rumput Pakchong
Pakchong ditanam dari stek batang, bukan biji. Stek yang baik diambil dari batang berumur 3 hingga 4 bulan dengan minimal 3 ruas per potongan. Jarak tanam yang kami rekomendasikan adalah 60 x 60 cm untuk memaksimalkan kerapatan tanpa mengorbankan sirkulasi udara. Informasi varietas rumput unggul yang direkomendasikan tersedia di portal deskripsi varietas rumput unggul Pakchong Kementerian Pertanian RI.
Pemupukan awal dengan pupuk kandang 10 ton per hektar dilakukan satu minggu sebelum tanam. Pupuk nitrogen tambahan diberikan setiap setelah panen untuk mendorong pertumbuhan tunas baru. Tanpa pemupukan rutin, kualitas nutrisi Pakchong akan menurun signifikan setelah panen ketiga.
Umur Panen dan Pengaruhnya pada Kandungan Nutrisi
Ini bagian yang paling sering diabaikan. Panen Pakchong pada umur 45 hari memberikan keseimbangan terbaik antara kandungan PK dan produksi biomassa. Panen terlalu muda (30 hari) menghasilkan PK lebih tinggi tetapi biomassa rendah. Panen terlalu tua (lebih dari 60 hari) meningkatkan serat kasar dan menurunkan kecernaan.
Dari pengalaman kami, peternak yang memanen Pakchong di atas 70 hari sering mengeluh sapinya tidak lahap memakannya. Penyebabnya adalah kandungan lignin yang meningkat seiring umur, sehingga palatabilitas turun drastis. Jadwal panen yang disiplin adalah kunci mempertahankan nilai nutrisi hijauan ini.
Untuk kalkulasi kebutuhan luas lahan Pakchong berdasarkan jumlah ekor sapi, baca panduan kebutuhan pakan sapi per hari yang membahas perhitungan kebutuhan bahan kering secara detail.
Benih dan panduan tanam rumput Pakchong tersedia melalui konsultasi penyuluh KAN Jabung. Hubungi kantor BSP kami di Jl. Suropati 4-6 Kemantren, Jabung, Malang, atau telepon 0341-791227 untuk jadwal kunjungan lapangan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Rumput Pakchong
Berapa kandungan protein kasar rumput Pakchong?
Kandungan Protein Kasar (PK) rumput Pakchong berkisar antara 10 hingga 12 persen dari bahan kering, tergantung umur panen dan kondisi pemupukan. Panen pada umur 30 hingga 35 hari menghasilkan PK mendekati batas atas, sementara panen di atas 60 hari akan menurunkan kadar protein secara signifikan.
Apa perbedaan nutrisi rumput Pakchong dan Odot?
Odot unggul dalam kandungan PK (12 hingga 14%) dibandingkan Pakchong (10 hingga 12%). Namun, Pakchong menghasilkan biomassa jauh lebih banyak per hektar — 250 hingga 400 ton per tahun versus 150 hingga 250 ton untuk Odot. Untuk lahan terbatas dengan sapi produksi tinggi, kombinasi keduanya memberikan hasil terbaik.
Kapan waktu panen rumput Pakchong yang paling baik?
Waktu panen optimal adalah 45 hari setelah pemangkasan sebelumnya. Pada umur ini, Pakchong memberikan keseimbangan terbaik antara kandungan protein, TDN, dan produksi biomassa. Panen di atas 60 hari meningkatkan serat kasar dan menurunkan kecernaan, sehingga palatabilitas sapi berkurang.
Apakah rumput Pakchong bisa dibuat silase?
Ya. Pakchong bisa dijadikan silase dengan hasil yang baik karena kandungan bahan keringnya relatif lebih tinggi dibandingkan Odot. Proses silase sebaiknya dilakukan saat tanaman berumur 45 hingga 55 hari untuk mendapatkan kadar gula yang cukup bagi proses fermentasi anaerobik yang optimal.
Berapa luas lahan yang dibutuhkan untuk pakan satu ekor sapi perah dari Pakchong?
Dengan asumsi produksi Pakchong 300 ton per hektar per tahun dan kebutuhan hijauan satu ekor sapi perah 40 hingga 50 kg segar per hari, dibutuhkan sekitar 500 hingga 600 m² lahan Pakchong per ekor sapi. Angka ini bisa lebih efisien jika dipadukan dengan konsentrat dan silase.
Bagaimana cara mendapatkan benih atau stek Pakchong di Malang?
Penyuluh KAN Jabung (Koperasi Agro Niaga Jabung) menyediakan konsultasi dan informasi sumber stek Pakchong untuk anggota maupun mitra peternak di wilayah Kabupaten Malang dan sekitarnya. Hubungi kantor BSP KAN Jabung di 0341-791227 untuk jadwal konsultasi.
Pakchong Bukan Solusi Tunggal, tapi Fondasi yang Solid
Tidak ada hijauan sempurna. Pakchong unggul dalam efisiensi lahan dan produksi biomassa. Odot lebih tinggi proteinnya. Gajah lebih adaptif di lahan marginal. Yang bekerja di lapangan bukan satu pilihan, melainkan kombinasi yang tepat sesuai kapasitas lahan dan target produksi.
Dari pengalaman kami mendampingi lebih dari 1.600 peternak aktif di BSP KAN Jabung, peternak yang berhasil mempertahankan produksi susu stabil adalah yang konsisten dengan jadwal tanam, jadwal panen, dan komposisi pakannya — bukan yang sering berganti hijauan tanpa rencana.









