Rochdale Pioneers 1844: Kisah 28 Buruh yang Mengubah Ekonomi Dunia

Di KAN Jabung, setiap kali kami menjelaskan mengapa koperasi bisa menjadi kekuatan ekonomi yang nyata, kami selalu kembali ke satu cerita yang terjadi hampir dua abad lalu di sebuah kota kecil di Inggris. Koperasi pertama di dunia yang diakui sebagai model modern adalah Rochdale Equitable Pioneers Society, didirikan pada 21 Desember 1844 oleh 28 buruh tenun di Rochdale, Lancashire, Inggris. Mereka memulai dengan modal hanya 28 poundsterling dan sebuah toko kecil yang menjual kebutuhan pokok dengan harga jujur dan kualitas terjamin.
Berdasarkan catatan dari Tirto.id, kelompok Rochdale Pioneers semula terdiri dari 28 anggota dengan berbagai latar belakang pekerjaan: penenun, pengrajin, dan pekerja terampil lainnya. Mereka lahir di jantung Revolusi Industri Inggris, saat mesin menggantikan tenaga manusia, upah terjun bebas, dan kondisi kerja buruh semakin memburuk. Alih-alih menyerah pada kondisi itu, mereka memilih untuk berorganisasi.
Sebelum Rochdale Pioneers, ada koperasi-koperasi lain yang berdiri lebih awal. Koperasi di Chatham dan Woolwich, Skotlandia, yang didirikan buruh bengkel kapal pada abad ke-18, secara historis mendahului Rochdale. Namun dunia mengenal Rochdale sebagai koperasi pertama karena dua alasan: sistem operasionalnya yang jauh lebih modern dan dokumentasinya yang lengkap. Rochdale bukan hanya mendirikan toko, melainkan juga merumuskan prinsip-prinsip yang hingga hari ini menjadi fondasi gerakan koperasi di 159 negara.
Mengapa Rochdale Menjadi Model Koperasi Dunia?
Banyak kelompok sebelum Rochdale mencoba mendirikan usaha bersama namun gagal. Yang membedakan Rochdale dari pendahulunya bukan skala atau modal, melainkan kerangka prinsip yang mereka rumuskan sendiri.
Rochdale Pioneers tidak hanya mendirikan toko. Mereka menulis aturan main yang adil, transparan, dan bisa diterapkan oleh siapa pun. Inilah yang membuat modelnya bisa direplikasi dan disebarluaskan. Ketika koperasi lain berjuang karena tidak ada pedoman yang jelas, anggota koperasi baru bisa langsung merujuk pada prinsip-prinsip Rochdale sebagai acuan operasional.
Rochdale Pioneers juga membuktikan bahwa prinsip yang benar menghasilkan pertumbuhan bisnis yang nyata. Toko kecil yang dimulai dengan 28 poundsterling berkembang menjadi jaringan ritel besar di Inggris. Keberhasilan ini menjadi argumen terkuat bahwa ekonomi berbasis kerja sama bukan sekadar utopia, melainkan model yang bisa bersaing dan bahkan mengalahkan bisnis konvensional.
Tujuh Prinsip Rochdale yang Masih Relevan Hingga Hari Ini

Prinsip-prinsip yang dirumuskan Rochdale Pioneers pada 1844 kemudian disempurnakan dan dikukuhkan oleh International Co-operative Alliance (ICA) dalam kongresnya. Berdasarkan catatan dari Badilag Mahkamah Agung, prinsip-prinsip Rochdale mencakup enam poin utama: penjualan tunai dengan harga tetap, potongan harga proporsional dengan pembelian anggota, kebebasan membeli, bunga minimum atas pinjaman, pemerintahan yang demokratis, dan netralitas ideologi.
ICA kemudian menyempurnakannya menjadi tujuh prinsip koperasi yang berlaku universal hingga hari ini.
| No | Prinsip Rochdale (Modern) | Makna Praktis |
|---|---|---|
| 1 | Keanggotaan sukarela dan terbuka | Siapapun bisa bergabung tanpa diskriminasi |
| 2 | Kendali demokratis oleh anggota | Satu anggota satu suara, tidak peduli besaran modal |
| 3 | Partisipasi ekonomi anggota | Anggota berkontribusi modal dan menerima manfaat secara proporsional |
| 4 | Otonomi dan kemandirian | Koperasi dikendalikan anggota, bukan pihak luar |
| 5 | Pendidikan, pelatihan, dan informasi | Anggota terus mendapat akses edukasi untuk berkembang |
| 6 | Kerja sama antar koperasi | Koperasi saling mendukung untuk memperkuat gerakan |
| 7 | Kepedulian terhadap komunitas | Koperasi memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar |
Yang menarik bagi kami di KAN Jabung adalah betapa dekatnya ketujuh prinsip ini dengan nilai-nilai Islam. Keanggotaan terbuka mencerminkan kesetaraan. Kendali demokratis mencerminkan musyawarah. Kepedulian pada komunitas mencerminkan zakat dan sedekah. Tidak mengherankan jika koperasi syariah di Indonesia bisa tumbuh subur karena fondasinya sudah selaras dengan nilai yang jauh lebih tua dari Rochdale itu sendiri.
Penyebaran Gerakan Koperasi dari Eropa ke Asia
Setelah sukses di Rochdale pada 1844, gerakan koperasi menyebar dengan cepat ke seluruh Eropa. Di Jerman, Friedrich Wilhelm Raiffeisen mendirikan koperasi kredit untuk petani pada 1864, yang kemudian berkembang menjadi model koperasi pertanian yang diadopsi di banyak negara Asia. Hermann Schulze-Delitzsch mendirikan koperasi simpan pinjam perkotaan pada 1850-an. Dua tokoh Jerman inilah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan koperasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pada 1895, International Co-operative Alliance (ICA) didirikan di London untuk menghubungkan gerakan koperasi di seluruh dunia. ICA inilah yang kemudian mengkodifikasi prinsip-prinsip Rochdale menjadi standar universal dan menyebarkannya ke negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Saat ini, ICA menghubungkan lebih dari 3 juta koperasi di 159 negara yang melayani lebih dari 1 miliar anggota.
Di Asia, koperasi pertama kali berkembang di Jepang dan India pada awal abad ke-20. Jepang mengadopsi model koperasi pertanian Raiffeisen dan mengembangkannya menjadi sistem koperasi pertanian yang sangat kuat. India mendirikan koperasi kredit di bawah bimbingan kolonial Inggris. Dari keduanya, model koperasi kemudian mengalir ke Asia Tenggara, termasuk ke Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia.
Bung Hatta dan Lahirnya Gerakan Koperasi Indonesia

Gagasan koperasi masuk ke Indonesia pada era kolonial. Upaya pertama dipelopori oleh R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto sekitar 1896. Ia mendirikan koperasi simpan pinjam untuk membantu pegawai pribumi terhindar dari jeratan rentenir. Namun koperasi baru benar-benar berkembang sebagai gerakan nasional setelah kemerdekaan, didorong oleh seorang tokoh yang pandangannya jauh melampaui zamannya.
Mohammad Hatta, atau Bung Hatta, adalah orang yang paling bertanggung jawab atas tumbuhnya gerakan koperasi Indonesia. Bukan sekadar karena ia mempromosikan koperasi, melainkan karena ia memahami bahwa koperasi bukan sekadar impor model Rochdale. Koperasi adalah formalisasi dari nilai gotong royong yang sudah ada dalam DNA bangsa Indonesia jauh sebelum Rochdale Pioneers dilahirkan.
Bung Hatta menegaskan bahwa koperasi adalah soko guru perekonomian nasional. Dalam Pasal 33 UUD 1945 yang ia rancang, tercantum bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Pasal inilah yang menjadi landasan konstitusional seluruh gerakan koperasi Indonesia hingga hari ini. Itulah mengapa Bung Hatta dinobatkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Tokoh-Tokoh Penting dalam Sejarah Koperasi Dunia
Memahami sejarah koperasi berarti memahami tokoh-tokoh yang membentuknya. Ada empat nama yang paling menentukan arah gerakan koperasi global.
Robert Owen (1771 hingga 1858) adalah pelopor awal gagasan koperasi dari Inggris. Ia mendirikan komunitas berbasis kerja sama di New Lanark, Skotlandia, dan dijuluki Bapak Koperasi Dunia. Owen melihat koperasi sebagai jawaban atas eksploitasi kapitalisme terhadap buruh.
William King (1786 hingga 1865) adalah dokter Inggris yang mempopulerkan ide koperasi melalui publikasi bulanan bernama The Cooperator sejak 1 Mei 1828. King mendirikan toko koperasi di Brighton dan mendampingi pendirian lebih dari 300 koperasi di Inggris sebelum Rochdale berdiri.
Friedrich Wilhelm Raiffeisen (1818 hingga 1888) adalah tokoh Jerman yang mengembangkan koperasi kredit untuk petani pada 1864. Model Raiffeisen kemudian menjadi inspirasi terbesar bagi koperasi simpan pinjam di Asia, termasuk koperasi pertanian di Indonesia.
Mohammad Hatta (1902 hingga 1980) adalah Wakil Presiden pertama Indonesia yang meletakkan fondasi gerakan koperasi nasional. Pandangannya bahwa koperasi harus berakar pada gotong royong, bukan sekadar adopsi model Barat, menjadikan koperasi Indonesia memiliki karakter yang khas.
KAN Jabung: Meneruskan Nilai Rochdale dalam Konteks Syariah Indonesia
KAN Jabung (Koperasi Agro Niaga Jabung) berdiri pada 1979 di Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, hampir 135 tahun setelah Rochdale Pioneers mendirikan toko kecilnya di Inggris. Namun nilai yang mendasari keduanya sangat dekat: kekuatan ada pada anggota, bukan pada pemilik modal; manfaat harus dirasakan semua, bukan segelintir orang; dan koperasi harus memberi dampak nyata bagi komunitas di sekitarnya.
Yang membedakan KAN Jabung dari Rochdale adalah konteks syariah yang menjadi fondasi operasionalnya. Jika Rochdale Pioneers mengganti bunga bank dengan bagi hasil proporsional, KAN Jabung melangkah lebih jauh dengan menerapkan akad-akad syariah yang menghilangkan seluruh unsur riba dari setiap transaksi. Sementara Rochdale mendidik anggotanya tentang cara berkoperasi, KAN Jabung mendidik 1.619 peternak aktifnya tentang manajemen sapi perah, nutrisi ternak, dan kesehatan hewan.
Selama 47 tahun, KAN Jabung telah membuktikan bahwa nilai-nilai yang lahir dari revolusi industri Inggris pada 1844 bisa tumbuh subur di ladang peternak dan petani Jawa Timur dengan sentuhan syariah yang autentik. Baca perjalanan lengkap KAN Jabung di artikel sejarah KAN Jabung dan pelajari bagaimana prinsip-prinsip ini diterapkan dalam sistem keuangan syariah di artikel apa itu koperasi syariah dan cara kerjanya.
Warisan Rochdale yang Tidak Akan Usang
Dengan modal hanya 28 poundsterling yang dikumpulkan 28 buruh tenun di Rochdale pada 1844, lahirlah sebuah model ekonomi yang kini melayani lebih dari 1 miliar orang di 159 negara. Yang jauh lebih berharga dari Rochdale Pioneers bukan toko kecil mereka yang berkembang menjadi raksasa ritel, melainkan tujuh prinsip yang mereka rumuskan dengan sederhana namun mengubah dunia.
KAN Jabung meneruskan nilai-nilai koperasi dunia itu dalam konteks syariah Indonesia. Baca lebih lanjut tentang landasan nilai yang kami pegang di artikel prinsip-prinsip ekonomi Islam dalam koperasi syariah.
Pertanyaan Umum tentang Koperasi Pertama di Dunia
Apa nama koperasi pertama di dunia dan kapan didirikan?
Koperasi pertama di dunia yang diakui sebagai model koperasi modern adalah Rochdale Equitable Pioneers Society, didirikan pada 21 Desember 1844 di Rochdale, Lancashire, Inggris. Lembaga ini dibangun oleh 28 buruh tenun dengan modal awal 28 poundsterling. Meskipun ada koperasi yang lebih tua di Chatham dan Woolwich, Skotlandia, Rochdale diakui sebagai koperasi pertama karena sistem operasionalnya yang modern dan prinsip-prinsipnya yang terdokumentasi lengkap serta diadopsi secara global.
Siapa pendiri Rochdale Pioneers dan apa latar belakang mereka?
Rochdale Pioneers didirikan oleh 28 anggota dengan berbagai latar belakang pekerjaan: mayoritas penenun dan pekerja tekstil terampil yang terdampak Revolusi Industri di Inggris. Mereka bukan pengusaha atau akademisi, melainkan buruh biasa yang memilih berorganisasi sebagai respons terhadap upah yang terus turun dan kondisi kerja yang memburuk. Gerakan koperasi ini mendapat inspirasi dari pemikiran Robert Owen, pelopor gerakan koperasi yang dijuluki Bapak Koperasi Dunia.
Apa saja prinsip-prinsip Rochdale yang masih digunakan koperasi hingga hari ini?
Tujuh prinsip Rochdale yang dikukuhkan International Co-operative Alliance (ICA) dan masih berlaku universal hingga hari ini adalah: keanggotaan sukarela dan terbuka, kendali demokratis oleh anggota (satu anggota satu suara), partisipasi ekonomi anggota, otonomi dan kemandirian koperasi, pendidikan dan pelatihan anggota, kerja sama antar koperasi, serta kepedulian terhadap komunitas. Prinsip-prinsip ini dirumuskan pada 1844 dan telah menjadi fondasi lebih dari 3 juta koperasi di 159 negara.
Bagaimana koperasi pertama masuk ke Indonesia?
Gagasan koperasi masuk ke Indonesia pada era kolonial Belanda. Upaya pertama dipelopori oleh R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto sekitar 1896, mendirikan koperasi simpan pinjam untuk pegawai pribumi. Namun gerakan koperasi baru benar-benar berkembang sebagai gerakan nasional setelah kemerdekaan, didorong oleh Mohammad Hatta yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Hatta meletakkan fondasi konstitusional koperasi melalui Pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan perekonomian disusun berdasarkan asas kekeluargaan.
Siapa yang disebut Bapak Koperasi Indonesia dan mengapa?
Mohammad Hatta atau Bung Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia, dinobatkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Ia dipilih bukan hanya karena mempromosikan koperasi, melainkan karena ia merumuskan fondasi konstitusional koperasi melalui Pasal 33 UUD 1945 dan menegaskan bahwa koperasi adalah soko guru perekonomian nasional. Hatta juga memahami bahwa koperasi Indonesia harus berakar pada gotong royong sebagai nilai lokal, bukan sekadar adopsi model Rochdale dari Inggris.
Bagaimana nilai-nilai Rochdale Pioneers diterapkan oleh KAN Jabung?
KAN Jabung (Koperasi Agro Niaga Jabung) menerapkan nilai-nilai Rochdale dalam konteks syariah Indonesia. Prinsip keanggotaan terbuka diterapkan melalui pendampingan 1.619 peternak aktif tanpa diskriminasi. Kendali demokratis diterapkan melalui rapat anggota tahunan yang menentukan arah koperasi. Adapun kepedulian komunitas diwujudkan melalui program Baitul Maal yang mengelola zakat, infaq, dan sedekah anggota. Yang membedakan KAN Jabung adalah penerapan akad syariah yang menghilangkan riba dari seluruh transaksi, sesuatu yang tidak ada dalam model Rochdale asli.
Dari Toko Kecil di Rochdale hingga Jutaan Koperasi di Seluruh Dunia
Dua puluh delapan buruh tenun di Rochdale tidak mendirikan koperasi untuk mengubah dunia. Mereka hanya ingin membeli tepung, gula, dan mentega dengan harga yang jujur. Namun dengan merumuskan prinsip yang benar, dengan mendirikan sistem yang adil dan transparan, mereka justru mengubah cara jutaan orang berorganisasi secara ekonomi selama hampir dua abad.
KAN Jabung meneruskan warisan itu. Bukan dengan meniru Rochdale, melainkan dengan menjalani nilai yang sama dalam konteks yang berbeda: petani dan peternak Jawa Timur, prinsip syariah Islam, dan semangat gotong royong yang sudah ada jauh sebelum Revolusi Industri Inggris dimulai.









